Friday, February 03, 2006

semi hand's free

kemarin waktu berangkat kerja, terjadi suatu yang barangkali merupakan kejadian yang sangat biasa, tetapi karena terjadinya pada moment dan situasi tertentu, maka kejadian tersebut menjadi suatu hal yang luar biasa. dalam keasyikan dan konsentrasi nyetir ke kantor, saya melihat sesuatu yang biasa yaitu ibu2 yang sedang asyik nelpon dengan hand's free nya, tetapi juga sembari asyik menyelinap ke kanan ke kiri nyetir mobilnya. semula hal itu tidak begitu menjadi perhatian saya, tetapi begitu lihat tangan kirinya memegangi mic hand's free nya, serta melihat repotnya nyetir, menjadikan suatu hal yang menarik perhatian saya ini.

saya jadi berfikir apa gunanya hand's free, bila masih saja merepotkan. saya masih juga melihat hal yang sama terjadi disekitar kita. orang kita masih gamang dengan penggunaan telpon yang masih 'mempunyai' standard operating procedure yaitu angkat gagang telepon kemudian menempelkannya ditelinga. nah, 'kebiasaan' menelpon seperti itulah yang menyebabkan orang masih 'suka lupa' bagaimana memakai hand's free. nah kalo begitu, bisa nggak kalo saya ngasih nama benda tersebut 'semi hand's free'?

masyarakat kita sangat sulit sekali berubah, mereka yang diharapkan menjadi 'agent of change' mempunyai rate of change (baca: tingkat perubahan) yang sangat kecil dibandingkan dengan perubahan dari 'alam' itu sendiri. sehingga secara relatifitas yang berubah adalah 'alam' bukan 'masyarakat'.

ada 'perubahan' harga bbm, kaget. kebijakan blt, kaget. rencana pemuatan playboy, shock. apalagi rencana kenaikan tdl, mungkin akan shock masyarakat kita ... kalo nggak boleh dikatakan sekarat ...

tapi, dari segala hal tersebut, ada juga yang dikatagorikan 'rate of change' nya lebih tinggi dari 'alam lingkungannya'. pt kai telah lebih dahulu menaikkan tarif krl ekspres nya. depok ekspres yang dulunya 7,5 rebong menjadi 9 rebong. heiiibat booo ...

No comments:

Post a Comment