Saturday, September 05, 2009

membaca gambar saja tidak bisa, konon pula menggambarnya

sangat mengejutkan apabila seorang yang punya profesi tertentu tidak mengenal pedoman profesinya sendiri seperti yang disinyalir oleh AJI dalam laporan th 2006 (baca: http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/27/22025198/85.Persen.Wartawan.Indonesia.Tidak.Memahami.Kode.Etik.Jurnalistik). hal ini terjadi pada profesi wartawan negeri tercinta kita yang menimbulkan aroma kebebasan pers yang keblinger di negara tercinta kita.

saya jadi teringat kata2 sakti mantan dosen gambar teknik saya yang berkata :'membaca gambar saja tidak bisa, konon pula menggambarnya' yang sangat serius beliau ucapkan tapi ditanggapi dengan tawa tertahan para mahasiswanya, karena pengucapan dengan dialek tertentu dari daerah bagian barat nusantara ini. disitu beliau dengan tegas menyatakan bahwa sebelum bisa menggambar, harus tahu dulu cara2 membaca gambar teknik yang benar. sederhana tapi sangat dalam maknanya, terlebih bila dihubungkan dengan masalah ketidakmengenalan para wartawan kita dengan kode etik jurnalistiknya.

akibatnya? wow ... luar biasa ...

ingat kasus manohara? simpati berubah menjadi benci. pada saat itu para pemerhati berita digiring ke suatu opini yang pada saat ini opini itu justru sudah mulai melemah karena kurang berimbangnya informasi pada saat itu.

ingat kasus antasari? awalnya seolah-olah kpk itu identik dengan antasari, sekarang? antasari ditinggal sendiri tanpa ada jejak 'jasa' di kpk (baca: http://www.detiknews.com/read/2009/09/03/162755/1196051/10/tak-ada-antasari-azhar-di-dinding-pesan-kpk).

dan masih banyak yang lainnya ...

langkah saya sebagai pemerhati berita? ... sebelum melihat atau membaca atau mendengar, siapkan mental kita untuk membawa lautan sabar untuk meredam emosi. kemudian mencobalah menjadi pemerhati yang 'cerdas'. dan akhirnya berkatalah dalam hati bahwa itu hanya sekedar berita, yang seiring dengan waktu akan terbang terbawa angin ...

No comments:

Post a Comment